Pintasan Narasi – Seiring berkembangnya teknologi, kecerdasan buatan (AI) seharusnya membuka peluang besar bagi kemajuan di berbagai sektor. Namun, ironisnya, AI kini lebih banyak digunakan untuk tujuan yang tidak produktif, bahkan yang cenderung membuang-buang sumber daya. Alih-alih digunakan untuk meningkatkan efisiensi industri atau mengatasi masalah global, banyak Aplikasi AI yang justru dipakai untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana kita seharusnya mengarahkan potensi besar AI untuk tujuan yang lebih konstruktif, serta bagaimana memaksimalkan manfaatnya untuk perkembangan sosial dan ekonomi yang lebih luas.
AI Lebih Banyak Digunakan Untuk Tujuan Tak Produktif
Kecerdasan buatan (AI) telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, membawa banyak kemajuan dalam dunia teknologi. Namun, meskipun potensinya yang besar, banyak penggunaan AI yang justru tidak produktif atau bahkan membuang-buang sumber daya. Teknologi ini lebih sering digunakan untuk hal-hal yang tidak memberikan dampak signifikan bagi masyarakat, seperti aplikasi hiburan yang berlebihan atau otomatisasi dalam industri yang tidak meningkatkan efisiensi. Alih-alih mengoptimalkan produktivitas atau mengatasi tantangan global, AI seringkali digunakan untuk tujuan yang tidak menghasilkan manfaat jangka panjang.
Salah satu contoh nyata adalah penggunaan AI dalam sektor hiburan, seperti algoritma rekomendasi yang terus-menerus menampilkan konten yang berulang tanpa memberikan nilai tambah bagi pengguna. Meskipun ini memberikan kenyamanan, banyak waktu dan sumber daya yang dihabiskan untuk aktivitas yang tidak produktif. Hal ini menggugah pertanyaan besar mengenai apakah kita sudah memanfaatkan AI dengan bijak atau malah membiarkannya terjebak dalam rutinitas yang tidak berguna.
Aplikasi AI Yang Tidak Efisien: Pemborosan Teknologi
Salah satu alasan mengapa AI banyak digunakan untuk tujuan yang tidak produktif adalah karena kurangnya pengawasan dan pemahaman tentang potensi sebenarnya dari teknologi ini. AI telah banyak diterapkan dalam aplikasi yang hanya memaksimalkan hiburan atau konsumsi pribadi, tanpa berfokus pada sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan masyarakat. Misalnya, penggunaan chatbot untuk percakapan ringan atau aplikasi sosial media yang menggunakan algoritma untuk meningkatkan interaksi secara berlebihan, seringkali tidak menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan pengguna.
Sementara itu, sektor yang seharusnya dapat memanfaatkan AI lebih optimal seperti kesehatan, pendidikan, dan penelitian ilmiah sering kali tertinggal. AI seharusnya bisa diterapkan dalam mengatasi masalah besar seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, atau meningkatkan sistem kesehatan global. Sayangnya, banyak perusahaan lebih memilih untuk mengembangkan aplikasi yang menguntungkan secara finansial namun tidak memberikan dampak besar bagi masyarakat.
Mengarahkan Teknologi Untuk Tujuan Produktif
Menghadapi fenomena ini, penting untuk menyadari bahwa AI memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan dengan maksimal. Alih-alih terjebak dalam penggunaan yang tak produktif, AI seharusnya diarahkan untuk tujuan yang lebih produktif, seperti mengoptimalkan sistem distribusi pangan, meningkatkan efisiensi energi, atau bahkan mempercepat inovasi dalam dunia medis. Misalnya, AI dapat digunakan untuk memprediksi tren kesehatan atau membantu dalam pengembangan vaksin dan obat-obatan yang lebih efektif.
Pemerintah, sektor swasta, dan komunitas teknologi perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa AI tidak hanya digunakan untuk hal-hal yang menguntungkan secara finansial, tetapi juga memberikan manfaat sosial yang nyata. Pendidikan tentang potensi AI yang lebih luas dan pengembangan aplikasi yang memiliki dampak langsung pada kehidupan manusia adalah langkah penting ke depan. Dengan demikian, kita bisa mengoptimalkan teknologi ini untuk tujuan yang lebih konstruktif dan menciptakan dunia yang lebih produktif dan berkelanjutan.







