Pintasan Narasi – Rencana pembangunan rumah susun (rusun) untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Depok menghadapi hambatan serius. Lahan yang disiapkan untuk proyek tersebut disebut-sebut dihadang aksi premanisme, sehingga proses pembangunan belum bisa berjalan optimal. Situasi ini memicu reaksi keras dari Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, yang menegaskan bahwa negara tidak boleh kalah oleh praktik premanisme.
Maruarar Sirait yang akrab disapa Ara menyampaikan keprihatinannya terhadap gangguan yang menghambat proyek hunian bagi masyarakat kecil itu. Menurutnya, pembangunan rusun MBR merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menyediakan hunian layak bagi warga yang selama ini kesulitan mendapatkan tempat tinggal terjangkau.
“Ini proyek untuk rakyat kecil. Masa negara kalah sama preman?” kata Ara dengan nada tegas saat menanggapi laporan mengenai gangguan di lahan proyek rusun tersebut.
Proyek untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Properti pembangunan rusun MBR menjadi salah satu langkah pemerintah dalam mengatasi backlog perumahan yang masih tinggi di Indonesia. Di kota-kota besar seperti Depok, kebutuhan hunian terjangkau terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi.
Rusun MBR dirancang untuk memberikan alternatif tempat tinggal bagi warga berpenghasilan rendah yang selama ini sulit membeli rumah tapak. Dengan konsep hunian vertikal, pemerintah berharap lebih banyak keluarga bisa mendapatkan tempat tinggal layak di kawasan perkotaan yang lahannya semakin terbatas.
Lahan di Depok yang menjadi lokasi proyek ini dinilai strategis karena berada di wilayah penyangga ibu kota. Banyak pekerja yang beraktivitas di Jakarta tinggal di Depok sehingga kebutuhan hunian terjangkau di wilayah tersebut cukup besar.
Namun rencana pembangunan tersebut justru diwarnai kendala di lapangan. Sejumlah pihak diduga melakukan intimidasi dan menghambat aktivitas di lahan proyek, sehingga proses persiapan pembangunan menjadi terganggu.
Negara Diminta Bertindak Tegas
Ara menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan proyek yang diperuntukkan bagi masyarakat kecil terganggu oleh aksi premanisme. Ia menilai negara harus hadir dan menunjukkan ketegasan dalam melindungi proyek-proyek pembangunan yang memiliki kepentingan publik.
Menurutnya, jika praktik semacam itu dibiarkan, maka akan berdampak buruk terhadap iklim pembangunan dan kepercayaan masyarakat. Selain itu, korban utamanya adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang sangat membutuhkan hunian layak.
“Proyek ini untuk rakyat kecil, untuk MBR. Tidak boleh ada yang menghalangi. Negara harus tegas,” ujarnya.
Ara juga menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta aparat penegak hukum untuk memastikan proyek pembangunan dapat berjalan tanpa gangguan.
Peran Aparat Penegak Hukum
Dalam kasus ini, Ara berharap aparat keamanan dapat turun tangan untuk memastikan situasi di lapangan tetap kondusif. Ia menilai praktik premanisme yang mengganggu pembangunan harus ditindak sesuai hukum yang berlaku.
Pemerintah, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk melindungi kepentingan masyarakat luas. Jika ada pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan situasi dengan cara intimidasi atau pemaksaan, maka tindakan tersebut tidak bisa ditoleransi.
Langkah tegas terhadap praktik premanisme juga dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor dan kontraktor yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur maupun perumahan.
Kebutuhan Hunian Terjangkau
Permasalahan hunian memang menjadi tantangan besar di kawasan perkotaan. Harga tanah dan rumah yang terus meningkat membuat banyak keluarga berpenghasilan rendah kesulitan memiliki rumah sendiri.
Program rusun MBR menjadi salah satu solusi yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan tersebut. Dengan dukungan pemerintah, hunian vertikal dapat dibangun dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan rumah tapak di lokasi yang sama.
Selain itu, rusun juga memungkinkan pemanfaatan lahan yang lebih efisien di kawasan perkotaan yang semakin padat.
Harapan Pembangunan Tetap Berjalan
Meski sempat dihadang gangguan, pemerintah berharap proyek rusun MBR di Depok tetap dapat berjalan sesuai rencana. Ara menegaskan bahwa pembangunan hunian untuk masyarakat kecil merupakan prioritas yang tidak boleh terhambat oleh kepentingan segelintir pihak.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan program perumahan sangat bergantung pada dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga aparat keamanan.
“Yang kita bangun ini untuk rakyat. Jangan sampai niat baik membantu masyarakat justru diganggu oleh tindakan yang merugikan banyak orang,” kata Ara.
Dengan adanya perhatian langsung dari pemerintah pusat, diharapkan permasalahan di lahan proyek dapat segera diselesaikan. Jika hambatan tersebut dapat diatasi, pembangunan rusun MBR di Depok diharapkan bisa segera dimulai dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan hunian layak dan terjangkau.
Proyek ini juga diharapkan menjadi contoh bahwa negara hadir untuk melindungi kepentingan rakyat, sekaligus memastikan pembangunan berjalan tanpa intimidasi dan praktik premanisme.








