Pintasan Narasi – Perlombaan senjata global telah memasuki era baru: perlombaan biologis. Alih-alih hanya berfokus pada rudal hipersonik atau kapal induk, perhatian Washington kini tertuju pada laporan intelijen yang mengindikasikan bahwa Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China sedang mengeksplorasi dan berpotensi mengembangkan teknologi bio-engineering untuk menciptakan prajurit super (super soldiers).
Kekhawatiran ini telah menyulut kepanikan di Capitol Hill. Para senator Amerika Serikat khawatir bahwa China dapat melangkahi AS dalam bidang biologi militer, sebuah keunggulan yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan global secara mendasar.
I. Laporan Intelijen Yang Memicu Ketakutan
Ketakutan AS bukan tanpa dasar. Laporan dari komunitas intelijen dan dokumen yang dipublikasikan oleh think tank AS menunjukkan bahwa Beijing sedang mengeksplorasi berbagai teknik bio-engineering untuk meningkatkan kemampuan fisik, kognitif, dan daya tahan prajuritnya.
Teknologi yang dicurigai menjadi fokus utama meliputi:
- Pengeditan Gen (CRISPR): Penggunaan teknologi pengeditan gen, meskipun masih kontroversial secara etika, diduga sedang dipertimbangkan untuk meningkatkan kepadatan tulang, kekuatan otot, dan bahkan mengurangi kebutuhan tidur pada prajurit.
- Antropologi Militer: Penelitian yang bertujuan mengidentifikasi dan memanipulasi gen yang berhubungan dengan kebugaran fisik ekstrem.
- Penggabungan Manusia-Mesin: Pengembangan antarmuka otak-komputer (Brain-Computer Interface – BCI) untuk meningkatkan kecepatan respons dan kemampuan kontrol senjata atau drone secara mental.
Senator AS menyatakan bahwa jika China berhasil menciptakan generasi prajurit yang lebih kuat, lebih cepat pulih, dan memiliki kemampuan kognitif yang superior dibandingkan tentara AS, hal itu akan menimbulkan ancaman eksistensial bagi dominasi militer AS.
II. Ancaman Asymmetric Warfare
Kekhawatiran utama para pemimpin AS adalah potensi China untuk mencapai keunggulan asimetris.
Ini bukan lagi tentang siapa yang punya kapal terbanyak, tetapi siapa yang punya tentara yang secara fundamental lebih unggul secara biologis. Jika China berhasil memproduksi prajurit yang tidak rentan terhadap penyakit, dapat bertahan lama tanpa tidur, dan memiliki reaksi fisik yang dimodifikasi, kita menghadapi lawan yang belum pernah ada sebelumnya, ujar salah satu staf komite intelijen Senat.
Teknologi super soldier ini dapat memberikan keuntungan besar dalam skenario konflik masa depan, terutama di wilayah yang menuntut daya tahan ekstrem, seperti operasi di Laut China Selatan atau di medan perang bersuhu ekstrem.
III. Dilema Etika Dan Perlombaan Baru
Reaksi AS terhadap perkembangan China ini berada di persimpangan teknologi dan etika. Secara etika, pengembangan super soldier melanggar norma internasional dan menimbulkan pertanyaan tentang hak asasi manusia serta batas-batas manipulasi genetik.
Namun, di tengah ketakutan geopolitik, etika sering kali tergeser oleh kebutuhan untuk mempertahankan keunggulan militer:
- Panggilan untuk Respons: Para senator mendesak Pentagon untuk segera meningkatkan investasi pada bidang bioteknologi militer defensif maupun ofensif agar AS tidak tertinggal.
- Pengawasan Global: Ada dorongan untuk menuntut perjanjian internasional yang melarang penggunaan teknologi pengeditan gen untuk tujuan militer, meskipun hal ini sulit dicapai mengingat China cenderung menolak pengawasan eksternal.
IV. Masa Depan Perang Dan Keamanan Nasional
- Keterkejutan dan ketakutan para senator AS ini menandai dimulainya era baru dalam kompetisi Great Power. Di masa depan, peperangan mungkin tidak hanya dimenangkan oleh negara dengan senjata tercanggih, tetapi juga oleh negara yang berhasil membuka potensi biologis manusia yang dimanipulasi secara ilmiah.
- Jika laporan intelijen ini terbukti akurat, AS harus bergerak cepat. Kegagalan dalam merespons ancaman bio-engineering China dapat membuat AS kehilangan keunggulan militernya, mengubah strategi pertahanan global, dan meningkatkan risiko konflik di masa depan karena kesenjangan kemampuan tempur yang tidak dapat ditutup.







